Sejarah Pembentukan Indonesian School Media Awards (ISMA)
Timeline
-
Gagasan awal
Pengembangan ekosistem media sekolah
Gagasan ISMA berangkat dari kebutuhan untuk mendorong sekolah tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk memproduksi, mengelola, dan menyampaikan informasi melalui media sekolah secara kreatif, bertanggung jawab, dan profesional.
-
Pengembangan myedisi mag sekolah
Media sekolah memasuki ekosistem digital
Pengalaman myedisi dalam mengembangkan penerbitan digital, termasuk myedisi mag sekolah, menunjukkan besarnya potensi siswa dalam jurnalistik, desain, fotografi, dan produksi konten, sekaligus kebutuhan akan wadah yang mendorong peningkatan kualitas media sekolah secara berkelanjutan.
-
Konsep ISMA dikembangkan
Dari apresiasi menuju pengembangan
Indonesian School Media Awards dikembangkan sebagai ajang apresiasi sekaligus pengembangan media sekolah. Sejak awal, ISMA dirancang bukan semata-mata untuk mencari pemenang, tetapi untuk membangun budaya media sekolah melalui penerbitan, pembinaan, apresiasi, dan evaluasi karya siswa.
-
Sistem ISMA diperkuat
Standar, kategori, dan penjurian
Konsep ISMA kemudian diperkuat dengan sistem penilaian terstandar, kategori karya yang merepresentasikan berbagai bentuk media sekolah, serta mekanisme blind judging untuk menjaga objektivitas. Teknologi myedisi mag sekolah dan myedisi reader menjadi bagian penting dari ekosistem digital tersebut.
-
Yayasan Ekosistem Media Kreatif dibentuk
Membangun kelembagaan ISMA
Seiring berkembangnya konsep ISMA, muncul kebutuhan untuk membangun institusi dengan mandat khusus yang dapat mengembangkan dan mengelola ISMA secara berkelanjutan. Yayasan Ekosistem Media Kreatif kemudian dibentuk untuk menaungi pengembangan dan tata kelola ISMA, termasuk pengembangan standar, sistem lisensi, sertifikasi dan akademi juri, serta pusat riset dan data media sekolah.
-
ISMA dikembangkan sebagai program nasional
Model regional dan kolaborasi
ISMA dirancang untuk dapat diselenggarakan secara bertahap di berbagai provinsi melalui kemitraan dengan penyelenggara daerah dan mitra profesional. Model ini memungkinkan standar, sistem penjurian, identitas, dan kualitas ISMA tetap terjaga secara nasional, sekaligus memberikan ruang bagi daerah untuk menyesuaikan pelaksanaan dengan karakteristiknya masing-masing.
-
ISMA 2027
Tahap awal pengembangan
Tahap awal pengembangan ISMA diarahkan pada penyelenggaraan ISMA 2027 di beberapa provinsi sebagai proyek percontohan. Dari pengalaman tahap awal tersebut, ISMA dikembangkan untuk diperluas secara bertahap ke provinsi-provinsi lain di Indonesia.
Dari Kompetisi Menjadi Ekosistem
Perjalanan ISMA menunjukkan perubahan dari sebuah gagasan mengenai kompetisi media sekolah menjadi sebuah ekosistem nasional pengembangan media sekolah.
ISMA tidak hanya memberikan penghargaan kepada karya terbaik, tetapi mendorong sekolah untuk secara konsisten menerbitkan media, meningkatkan kompetensi siswa dan guru pendamping, menggunakan teknologi secara tepat, serta menghasilkan karya media yang kreatif, berkualitas, dan bertanggung jawab.
Karena itu, ISMA Foundation memposisikan ISMA sebagai sebuah ekosistem yang mempertemukan sekolah, siswa, pendidik, juri profesional, penyelenggara daerah, mitra industri, dan berbagai pemangku kepentingan dalam satu kerangka dengan standar nasional.
Mengapa ISMA Dibentuk?
Media sekolah merupakan ruang belajar yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, kolaborasi, dan kepemimpinan peserta didik. Namun, kualitas media sekolah di Indonesia masih sangat beragam dan belum seluruhnya didukung standar, pembinaan, serta sistem apresiasi yang mendorong peningkatan mutu secara berkelanjutan.
Pada saat yang sama, transformasi digital telah mengubah media sekolah dari majalah cetak menjadi media digital interaktif yang mengintegrasikan teks, foto, audio, video, dan berbagai bentuk komunikasi multimedia. Perubahan ini membutuhkan ekosistem yang tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga standardisasi, teknologi, pembinaan, dan kolaborasi.
Atas dasar kebutuhan tersebut, ISMA dibentuk sebagai ekosistem nasional untuk mendorong budaya media sekolah yang kreatif, berkualitas, dan berkelanjutan melalui kompetisi, pengembangan kapasitas, sistem penjurian yang objektif, dan pemanfaatan teknologi digital.
ISMA Hari Ini
ISMA kini diposisikan bukan sekadar sebagai kompetisi, melainkan sebagai ekosistem pengembangan media sekolah Indonesia.
Melalui standardisasi, teknologi digital, pembinaan, sistem penjurian, dan kolaborasi nasional, ISMA Foundation mengembangkan sistem dan inovasi yang mendorong sekolah membangun budaya publikasi yang kreatif, berkualitas, dan berkelanjutan.
ISMA bukan sekadar kompetisi.
ISMA adalah ekosistem pengembangan media sekolah.